Jl. Raya Ubud No.88, Bali 80571

(+62) 81 2345 1234

Opening : Mon-Fri 08:00 – 17:00


Terjemahan Akurat dan Tepat Menurut Pengguna Jasa

akurasi-terjemahan

Pokok pikiran dalam tulisan ini adalah memahami penerjemahan setepat mungkin dari sudut pandang pengguna terjemahan. Bagaimana sebuah terjemahan dinilai tepat dan akurat, standard ini sering menjadi sandungan bagi penerjemah. Pengguna jasa kadang memiliki pendapat lain yang berbeda faham dengan penerjemah. Tidak ada kaitannya dengan salah atau benar, karena yang ada hanya perbedaan pemahaman soal naskah dan terjemahannya.

Mengutip dari https://jits.co.id Paling tidak ada dua asumsi yang digunakan untuk menilai terjemahan akurat:

  1. Bahwa kebanyakan teori penerjemahan dan pelatihan penerjemah di masa lalu sebagian besar didasarkan pada perspektif eksternal ini.
  2. Bahwa pendasaran pada perspektif eksternal itu sebagian besar dilakukan dengan cara-cara yang tidak jelas atau dipaksakan.

Asumsi pertama antara lain menimbulkan konsekuensi bahwa bentuk teori penerjemahan dan pelatihan penerjemah banyak yang bersifat otoriter, normatif, dan terikat pada kaidah. Tujuan-tujuannya memaksa penerjemah mengikuti pengekang itu seperti robot. Kendati perspektif ini memang berguna (mewakili pandangan pihak yang membayar kita untuk menerjemah, sehingga mereka adalah pihak yang harus kita puaskan), tetapi tanpa diimbangi perspektif internal yang berorientasi pada penerjemah, perspektif ini dapat pula menimbulkan masalah dan menjatuhkan moral.

Konsekuensi dari asumsi kedua ialah bagian-bagian penting dalam perspektif pengguna terjemahan, khususnya ketepatan waktu dan harga, belum tersaji secara memadai dalam literatur teori tradisional atau seminar-seminar penerjemahan. Bahkan dari perspektif eksternal pengguna terjemahan pun, penerjemahan tidak boleh disederhanakan menjadi “terjemahan akurat”.

Terjemahan Logo

Subjektifitas pembaca terhadap naskah terjemahan memang sangat mengganggu penerjemah dalam memberikan karya sebagai jasa. Ini bukan hanya soal seberapa besar pengguna jasa membayar, namun lebih pada tanggung jawab seorang penerjemah yang harus menuliskan pemahaman terbaik terhadap satu teks.

Sebagaimana sering dikerjakan oleh penulis, dalam menerjemahkan ijazah terdapat beberapa gambar atau logo lembaga pendidikan yang tidak dapat diterjemahkan. Sebagai pertimbangan untuk tata layout supaya kelihat rapi dan bagus, penulis sering menulis kata “logo” dan tidak menampilkan gambar logo tersebut. Bagi pengguna jasa, upaya ini dianggap tidak menerjemahkan atau bahkan ada yang mengatakan bahwa “logo” adalah bahasa Indonesia. Akhirnya dengan berat hati, penulis menjelaskan dengan cara mirip orang berdebat apa makna logo, logo adalah bahasa inggris, logo dilarang diterjemahkan, dan lain sebagainya. Dan itulah bagian dari tugas penerjemah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ready To Start New Project With Intrace?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.