Jl. Raya Ubud No.88, Bali 80571

(+62) 81 2345 1234

Opening : Mon-Fri 08:00 – 17:00


Perdebatan Penerjemahan Nama Benda dan Orang

Diskusi dan Debat Penerjemahan

Dalam topik diskusi yang sering diikuti oleh penulis, acapkali muncul hal-hal lain yang terlibat dalam penerjemahan di samping “akurasi yang teliti”. Kompleksitas moral penerjemahan profesional ditampilkan lebih detail pada cara mereka menerjemahkan. Diskusi bisa berperan sebagai pengantar awal menuju persoalan yang sangat peka dan hangat diperdebatkan.
Semakin kuat Anda terpaku pada etika kaku penerjemahan, semakin sulit bagi Anda untuk mengizinkan penerjemah bergerak bebas dalam pekerjaan dan tugas mereka. Karena Anda akan tergoda untuk memaksakan pendapat Anda sendiri atas mereka. Penting untuk diingat: kendati pandangan Anda mencerminkan etika dan legalitas kebanyakan penerjemahan profesional, penerjemah yang anda pekerjakan dipastikan harus belajar berdamai dengan realitas-realitas tersebut dengan caranya sendiri.

Pentingnya Perdebatan Penerjemahan dengan Pengguna jasa

Sebuah diskusi dengan hasil akhir terbuka, bila resikonya tidak terlalu besar, dapat membantu mereka mempelajarinya. Etika tradisional tentu saja juga tidak mencakup segala situasi karena terlampau sempit. Sebagai profesional, kelak penerjemah diwajibkan mempunyai cukup referensi pemahaman tentang kompleksitas di balik etika penerjemahan agar mampu mengambil keputusan sulit dalam situasi yang kompleks.
Di sini seharusnya seorang penerjemah relatif mudah dipancing dengan keterangan sepotong-sepotong tentang kondisi penelitian penerjemahan, saat itu jangan biarkan penerjemah dan pengguna jasa berdebat sendiri, ikutilah permintaan klien dan ditutup dengan kalimat, kalau ada resiko soal hasil terjemahan yang dipesan, penerjemah atau lembaga jasa penerjemah tidak akan bertanggung jawab.

Perdebatan Penerjemahan Sebagai Saksi Ahli di Persidangan

Dalam beberapa kejadian, penulis sering sekali mendapat tugas menjadi saksi ahli dalam bidan penerjemahan dokumen. Tentu penulis akan sangat bersedia seandainya yang disaksikan adalah karya sendiri dan tidak ada campur tangan oleh klien atau pengguna jasa. Namun sebaliknya, tidak satupun penerjemah yang bersedian menjadi saksi ahli di persidangan manakala diminta untuk menguraikan karya terjemahan penerjemah lain.

Perdebatan Penerjemahan Nama Orang dan Nama Benda

Menurut insan penerjemahan, perbedaan faham dan perdebatan itu biasa terjadi. Bahkan kaidah untuk menerjemahkan sebuah nama yang baku saja masih dalam lingkaran perdebatan panjang. Menurut kami dan beberapa penerjemah lain, sebuah nama yang baku, baik nama benda atau nama orang tidak boleh diterjemahkan ke bahasa sasaran. Contoh nama negara, “Nederland” yang diterjemahkan oleh masyarakat Indonesia menjadi “Belanda”, dan nama-nama yang lain. Akan tetapi ada yang berpandangan justru nama adalah sebuah kata yang harus diterjemahkan meski itu sudah baku. Karena pemberian nama dilakukan menurut bahasa sumber, dan harus diterjemahkan sesuai dengan keadaan sosial, budaya bahasa sasaran. Lalu bagaiman dengan nama orang, misalnya saja dalam bahasa arab “Abdurrahman” apakah harus diterjemahkan ke bahasa sasaran menjadi “Hamba Tuhan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ready To Start New Project With Intrace?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.